Jumat, 11 Januari 2008

PETUAH UNTUK PARA PENJARING ANGIN



Sampai kapan kita akan terus hidup
sebagai penjaring angin?
Melahap waktu dengan
penuh kesia-siaan.
Mengabdi kepada dewa kesia-siaan…
Kita anak yatim,
yang tak berbapa.
Kita anak miskin,
yang tak berilmu.
Kita budak,
yang tak diberi hak
memilih kehidupan
Bilamana kita terbangun,
menyadari kenyataan?
Berlari berteriak lantang
menuju panggung kebenaran?
Melepaskan diri dari peyatiman,
pemiskinan dan pembudakan.
Berhentilah menjaring angin!
Mulailah belajar kepada anak manusia.
Karena ia berbapa, kaya,
dan merdeka!
Ia baru saja diutus,
hadir ditengah-tengah kita.
Untuk membangunkan, mentahirkan,
dan mengajarkan kebijaksanaan.
Kepada orang-orang seperti kita,
yang tertidur, najis dan jahil.
Yang selama ini dididik menjadi
produk manusia bermental budak
dan gemar berbuat sundal.
Semoga pikiran kita masih bisa
menerima konsep perubahan dari TUHAN;
yang sudah mulai terlupakan.
Digerus roda kehidupan…
Berputar layaknya roda kehidupan…

Edwin Prasetyo, “Belum separuh jalan”
Yogyakarta.januari2008

0 komentar: